Usia yang tepat untuk sunat
Melakukan sunat atau istilah medisnya sirkumsisi adalah salah satu prosedur medis yang banyak dilakukan di berbagai belahan dunia, khususnya dalam komunitas agama Islam, sebab dianggap sebagai bagian dari ajaram agama. Namun, diluar aspek religi, melakukan sunat juga diakui secara medis mempunyai sejumlah manfaat kesehatan yang banyak. Prosedur sunat melibatkan pemotongan atau pengangkatan kulup, yaitu lapisan kulit yang menutupi kepala penis. Jika bagian kulup ini tidak dipotong bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan, seperti akumulasi kotoran yang tertinggal, kelembapan yang berlebihan, dan peningkatan risiko infeksi.
Beberapa penelitian telah membuktikan manfaat kesehatan dari sirkumsisi. Bahkan, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sunat dapat mengurangi risiko tertular HIV hingga 60%. Selain itu, sunat juga dianggap dapat mencegah berbagai penyakit lain, mulai dari infeksi saluran kemih, kanker penis, hingga penyakit menular seksual (PMS). Dengan manfaat yang begitu besar, banyak orang tua yang mempertimbangkan untuk menyunatkan anak laki – laki mereka. Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah: kapan usia yang tepat untuk sunat bagi anak laki – laki ?

Manfaat sunat dari sisi kesehatan
Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang usia yang ideal untuk sirkumsisi, penting untuk memahami berbagai manfaat kesehatan yang ditawarkan oleh sunat. Beberapa di antaranya termasuk:
- Mencegah infeksi saluran kemih (ISK)
Salah satu manfaat utama sirkumsisi adalah kemampuannya dalam mencegah infeksi saluran kemih. Pada anak laki – laki yang tidak disunat, risiko terjadinya ISK lebih tinggi dibandingkan dengan anak laki – laki yang telah disunat. Hal ini disebabkan oleh penumpukan kotoran dan bakteri di bawah kulit kulup, yang bisa menjadi tempat berkembang biaknya patogen. Kulup yang tidak dipotong menciptakan lingkungan lembap yang ideal untuk pertumbuhan bakteri, sehingga meningkatkan risiko terjadinya infeksi.
Infeksi saluran kemih dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan serius, termasuk kerusakan ginjal jika tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu, dengan menyunat anak laki – laki, orang tua dapat mengurangi risiko terjadinya infeksi saluran kemih yang berpotensi merusak kesehatan jangka panjang anak.
- Mencegah fimosis dan parafimosis
Fimosis adalah kondisi medis di mana kulup penis tidak dapat ditarik kembali dari kepala penis. Kondisi ini bisa terjadi pada anak – anak dan orang dewasa yang tidak disunat. Fimosis dapat menyebabkan rasa sakit, iritasi, dan infeksi. Jika tidak ditangani, fimosis dapat berkembang menjadi parafimosis, di mana kulup yang telah ditarik ke belakang tidak bisa kembali ke posisi semula. Parafimosis dapat menyebabkan pembengkakan dan nyeri hebat di area kepala penis, yang dalam beberapa kasus memerlukan tindakan medis darurat.
Dengan melakukan sirkumsisi, risiko terjadinya fimosis dan parafimosis dapat dihindari, karena tidak ada lagi kulup yang dapat menyebabkan masalah tersebut.
- Mengurangi risiko kanker penis
Kanker penis adalah jenis kanker yang jarang terjadi, tetapi tetap menjadi ancaman bagi kesehatan pria. Salah satu faktor risiko utama kanker penis adalah infeksi berulang dan kebersihan yang buruk di sekitar kepala penis. Pria yang tidak disunat lebih rentan terhadap infeksi ini karena kulup yang tidak dibersihkan dengan baik dapat menjadi tempat berkumpulnya bakteri dan virus.
Meskipun risiko kanker penis sangat rendah, sirkumsisi tetap dianggap sebagai langkah preventif yang dapat membantu menurunkan risiko terjadinya penyakit ini. Dengan menjaga area kepala penis tetap bersih dan bebas dari infeksi, risiko kanker penis dapat diminimalkan.
- Menurunkan risiko penyakit menular seksual (PMS)
Salah satu manfaat kesehatan jangka panjang dari sirkumsisi adalah kemampuannya dalam menurunkan risiko tertular penyakit menular seksual (PMS) ketika anak tumbuh dewasa. Beberapa studi menunjukkan bahwa pria yang disunat memiliki risiko lebih rendah tertular infeksi menular seksual seperti human papillomavirus (HPV), herpes genital, dan sifilis.
HPV, misalnya, adalah virus yang dapat menyebabkan kutil kelamin dan kanker serviks pada wanita. Infeksi ini bisa menyebar melalui kontak seksual, dan pria yang tidak disunat lebih berisiko tertular serta menularkannya kepada pasangan mereka. Dengan melakukan sirkumsisi, risiko tertular HPV dapat dikurangi secara signifikan.
- Mengurangi risiko tertular HIV
Seperti yang disebutkan sebelumnya, WHO mengakui bahwa sunat dapat mengurangi risiko tertular HIV hingga 60%. Ini terutama berlaku di daerah dengan prevalensi HIV yang tinggi. Sunat membantu mengurangi area permukaan tempat virus dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka kecil atau retakan pada kulit. Dengan demikian, sirkumsisi merupakan salah satu strategi pencegahan yang efektif dalam upaya melawan penyebaran HIV, meskipun tidak memberikan perlindungan penuh dan tetap memerlukan langkah – langkah pencegahan lainnya seperti penggunaan kondom.
Usia yang tepat untuk sirkumsisi
Sekarang setelah kita mengetahui manfaat kesehatan dari sirkumsisi, pertanyaan berikutnya adalah: kapan waktu yang paling tepat bagi anak laki – laki untuk disunat? Ada beberapa pandangan mengenai hal ini, tergantung pada faktor budaya, agama, dan medis.
- Sirkumsisi pada masa bayi (0-6 Bulan)
Banyak dokter dan ahli kesehatan merekomendasikan sirkumsisi dilakukan pada usia bayi, terutama di bawah 6 bulan. Usia ini dianggap ideal karena sejumlah alasan medis:
- Pemulihan lebih cepat: Bayi cenderung sembuh lebih cepat setelah prosedur sirkumsisi karena jaringan tubuh mereka masih dalam fase pertumbuhan yang cepat. Luka yang dihasilkan juga relatif kecil dan proses penyembuhannya lebih singkat dibandingkan dengan anak yang lebih tua.
- Perawatan pasca operasi lebih mudah: Pada bayi, perawatan pasca sirkumsisi umumnya lebih sederhana karena bayi lebih sedikit bergerak dan tidak banyak melakukan aktivitas fisik yang berisiko memperburuk kondisi luka. Orang tua dapat lebih mudah memastikan kebersihan dan pemulihan luka.
- Minim trauma psikologis: Bayi yang disirkumsisi pada usia dini biasanya tidak memiliki ingatan atau trauma psikologis terhadap prosedur ini. Hal ini berbeda dengan anak yang lebih tua yang mungkin merasa cemas atau takut sebelum dan setelah prosedur.
Namun, meskipun sirkumsisi pada usia bayi menawarkan banyak kelebihan, orang tua tetap perlu berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan bahwa kondisi kesehatan bayi stabil dan siap untuk menjalani prosedur tersebut. Beberapa bayi dengan kondisi medis tertentu mungkin perlu menunda sirkumsisi hingga mereka lebih kuat.
- Sirkumsisi pada usia kanak – kanak (5-12 Tahun)
Beberapa orang tua memilih untuk menunda sirkumsisi hingga anak laki – laki mereka mencapai usia antara 5 hingga 12 tahun. Pada usia ini, anak sudah lebih besar dan biasanya sudah bisa memahami prosedur yang akan dilakukan. Beberapa alasan mengapa orang tua memilih usia ini meliputi:
- Kesiapan mental: Pada usia ini, anak sudah bisa diajak berbicara dan dijelaskan mengenai prosedur sirkumsisi. Mereka dapat diberikan pemahaman tentang manfaat kesehatan jangka panjang dari sunat, sehingga membantu mengurangi rasa takut atau kecemasan yang mungkin mereka rasakan.
- Kesadaran kebersihan: Anak yang lebih besar juga sudah mulai memiliki pemahaman tentang pentingnya menjaga kebersihan diri. Mereka bisa diajarkan cara merawat luka pasca operasi dengan lebih baik, sehingga membantu proses pemulihan.
Namun, sirkumsisi pada usia ini juga memiliki tantangan tersendiri. Anak yang lebih tua mungkin merasa lebih cemas atau takut menghadapi prosedur medis. Selain itu, proses pemulihan mungkin lebih lama dan perawatan pasca operasi memerlukan perhatian lebih karena anak lebih aktif bergerak.
- Sirkumsisi pada usia dewasa
Beberapa pria mungkin baru memutuskan untuk menjalani sirkumsisi saat dewasa, baik karena alasan medis atau budaya. Meskipun prosedur ini aman dilakukan pada usia dewasa, ada beberapa risiko tambahan yang perlu diperhatikan:
- Proses penyembuhan lebih lama: Pada orang dewasa, proses penyembuhan biasanya lebih lama dibandingkan dengan anak – anak atau bayi. Selain itu, luka yang dihasilkan juga lebih besar, sehingga memerlukan waktu lebih lama untuk sembuh sepenuhnya.
- Risiko komplikasi lebih tinggi: Orang dewasa yang menjalani sirkumsisi berisiko mengalami komplikasi yang lebih besar, seperti infeksi, perdarahan, atau masalah penyembuhan luka. Oleh karena itu, sirkumsisi pada usia dewasa memerlukan perawatan medis yang lebih intensif dan perhatian ekstra.
Sunat atau sirkumsisi adalah prosedur medis yang menawarkan sejumlah manfaat kesehatan yang signifikan, mulai dari mencegah infeksi saluran kemih, mengurangi risiko tertular penyakit menular seksual, hingga menurunkan risiko tertular HIV. Meskipun ada berbagai pandangan mengenai kapan waktu yang tepat untuk menjalani sirkumsisi, banyak ahli medis merekomendasikan agar prosedur ini dilakukan pada usia bayi, terutama di bawah 6 bulan.
Namun, jika sirkumsisi dilakukan pada usia yang lebih tua, penting bagi orang tua untuk memastikan kesiapan fisik dan mental anak. Pada akhirnya, keputusan mengenai usia yang tepat untuk sunat harus didasarkan pada konsultasi dengan dokter serta mempertimbangkan kondisi kesehatan anak dan preferensi keluarga. Dengan demikian, prosedur sirkumsisi dapat dilakukan dengan aman dan memberikan manfaat kesehatan jangka panjang bagi anak laki – laki.